Selasa, 02 September 2008

minat belajar anak


Minimnya minat baca-tulis tentu berdampak pada rendahnya kemampuan baca dari masyarakat kita. Hasil studi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa SD di Indonesia amat parah. Pada tahun 1991, berada di peringkat 26 dari 27 negara. Pada 1992, di peringkat 29 dari 30 negara. Dan, di tahun 2000, di urutan ke-38 dari 39 negara, terendah di antara negara-negara ASEAN. Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Sebab, membaca merupakan dasar bagi proses penggalian informasi. Artinya, kegiatan membaca akan mempengaruhi tingkat keberhasilan aktivitas/bidang yang lain di jenjang berikutnya. Dan, memang terbukti. Ternyata kemampuan siswa SLTP kita juga rendah, di bidang matematika hanya berada di urutan 34, sedangkan di bidang IPA berada di urutan 32. Tidak aneh bila di antara 148.900-an SD, 20.700-an SMP, 7.900-an SMU dan 4.400-an SMK di Indonesia, tidak lebih dari hitungan jari tangan yang berkelas dunia. Hal yang sama terjadi di jenjang perguruan tinggi (PT). Dari sekitar 2000 perguruan tinggi, hanya ada empat PT yang berhasil masuk dalam daftar 77 perguruan tinggi berkelas dunia di Asia dan Australia. Itu pun berperingkat di atas 60, sebagaimana hasil studi Asia Week (2000). Bahkan dalam lingkup yang lebih spesifik, di antara 35 perguruan tinggi sainstek berkelas dunia, hanya satu yang berasal dari Indonesia. Dengan kondisi seperti ini tidaklah berlebihan bila sebuah survei tentang kualitas pendidikan di 13 negara, menempatkan Indonesia di urutan 13. Menyedihkan Pertanyaannya, akankah kondisi di atas dibiarkan? Mestinya tidak. Dalam konteks inilah keluarga mempunyai peran yang sangat dominan. Terutama dalam hal potensinya menumbuhsuburkan minat baca, guna mencerdaskan anak bangsa. Potensi keluarga Sepertihalnya kegiatan pembelajaran yang lain, upaya menumbuhkan minat baca juga akan lebih mudah dan efektif apabila dilakukan sejak dini, sejak kanak-kanak. Ini artinya, orang tua sangat dituntut keikutsertaannya. Bukankah orang tualah pendidik anak yang pertama dan utama? Sehingga, sesungguhnya, orang tua-lah penentu berminat atau tidaknya anak terhadap aktivitas membaca. Semestinya pula orang tua menetapkan kecintaan anak akan membaca sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan orang tua dalam memberi bekal kepada anak-anaknya. Sayangnya, hal sebaliknyalah yang selama ini terjadi dalam keluarga, dalam ranah domestik. Masih sangat banyak orang tua yang terpaku pada ketersediaan materi sebagai tolok ukur pemenuhan tanggungjawabnya terhadap anak. Mereka tidak merasa bersalah ketika anak-anak membuang waktunya dengan menonton acara-acara "sampah" di televisi. Dengan kondisi orang tua yang seperti ini tidaklah terlalu mengejutkan ketika sebuah statistik memperlihatkan bahwa 66 persen dari penduduk usia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi untuk mengisi waktu senggangnya di rumah. Minimnya kecintaan akan membaca juga terlihat dari lebih senangnya anggota keluarga untuk ngobrol, melamun bahkan tidur ketika di perjalanan ataupun saat menunggu sesuatu daripada memanfatkannya untuk membaca. Hanya 22,25 persen yang memanfaatkannya untuk membaca. Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia menunjukkan bahwa waktu yang dipakai untuk membaca para mahasiswa Indonesia kurang dari 1 jam/hari, lebih rendah 2 jam dibandingkan dengan waktu untuk menonton televisi, yang sekitar 3 jam/hari. Selain itu juga tampak dari lebih senangnya anak-anak (yang tentu didukung oleh orang tuanya) untuk pergi ke puncak, kafe, acara pentas ataupun jumpa artis di pasir padi, (bahkan mereka sampai rela mati untuk itu) daripada ke perpustakaan, toko buku apalagi kegiatan bedah buku. Warung-warung kecil selalu lebih banyak pengunjung dibandingkan toko-toko buku pemuda di Jalan Ps Pembagunan. Padahal katanya kita sedang krismon. Padahal harga semangkok bakso Mas Pur di Simpang Pengadilan relatif lebih mahal daripada harga buku (banyak buku yang harganya dibawah Rp 5.000,-). Handphone menjadi trend anak zaman sekarang. Dengan kondisi seperti di atas, tidak aneh bila kemudian keluarga dinilai sebagai ranah yang tidak berkontribusi terhadap kemajuan suatu bangsa. Kondisi minimnya atensi membaca ini harus segera diperbaiki. Harus segera dikondisikan agar keluarga menjadi tempat pemupukan minat baca. Terlebih, bila mengacu pada pendapat beberapa ahli bahwa kemampuan baca tidaklah berhubungan dengan bakat. Yang diperlukan hanyalah kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua. Pertama, menyediakan bahan bacaan (sesuai usia). Bagaimana minat baca bisa terbentuk bila bahan bacaan tidak tersedia? Bisa dengan cara membeli (masih banyak orang tua yang lebih senang membelikan barang konsumtif daripada membelikan buku bacaan) tapi bisa juga dengan meminjam. Misalnya, ke perpustakaan. Di Propinsi Babel ini sampai sekarang mungkin belum ada perpustakaan umum setahu saya. Kedua, menciptakan suasana menyenangkan. Hal ini penting karena pertumbuhan minat baca terkait erat dengan pengalaman emosi yang mengikutinya. Metode bermain dan mendongeng merupakan alternatif cara yang dapat diterapkan. Di sinilah kualitas dan kuantitas waktu orang tua diperlukan. Kualitas waktu dalam bentuk pemunculan ide pengajaran yang kreatif. Kuantitas waktu dalam bentuk frekuensi pengulangan yang intens, karena daya ingat dan daya tangkap anak masih terbatas. Ketiga, bersikap demokratis. Upaya pemupukan minat baca ini, tidak dapat dilakukan secara otoriter, dengan hanya sekadar memberi perintah, "Kamu harus rajin baca." atau "Ayo, baca buku ini !!!" Perlu ada upaya untuk melibatkan dan memberi kebebasan anak untuk memilih bacaan yang disukainya, asalkan masih sesuai dengan usianya. Hal ini akan mendorong mereka untuk mau membacanya. Dan, bila mereka kemudian bisa merasakan kenikmatan aktivitas membaca, tentu akan terdorong untuk membaca dan membaca lagi. Keempat, menjadi teladan. Anak akan merasa bahwa perbuatannya benar, apabila orang tua juga melakukannya, termasuk dalam hal membaca. Orang tua hendaknya memanfaatkan waktu senggangnya dengan membaca, membicarakan buku tertentu, mengajak pergi ke toko buku/perpustakaan, atau merawat koleksi bukunya. Sungguh mustahil menumbuhkan minat baca anak-anak, sementara si orang tuanya sendiri tidak senang membaca, tidak menghargai keberadaan buku. Guru pertama adalah ibuku, sekolah pertama adalah rumahku. Membaca ibarat menuangkan air ke dalam tabung memori kita. Pada saat menulis kata-kata akan mengalir lewat jari-jari tangan di tombol komputer atau tinta pena atau paling tidak sebatang potlot di kertas.

Tidak ada komentar: